Tampilkan postingan dengan label Sistem Pengendalian Manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Pengendalian Manajemen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Maret 2016

METODE PENERIMAAN TEKNOLOGI

METODE PENERIMAAN TEKNOLOGI

Model penerimaan teknologi (Technology Acceptance Model atau TAM) merupakan suatu model penerimaan teknologi atau techchnology acceptance model (TAM) dikembangkan oleh David et al. pada tahun 1989 berdasarkan model TRA.
TAM menambahkan dua konstruk utama ke dalam model TRA. Dua konstruk utama ini adalah kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use). Keduanya mempunyai pengaruh ke niat perilaku (behavioral intention). Pemakaian teknologi akan mempunyai niat menggunakan teknologi (niat perilaku) jika merasa sistem teknologi bermanfaat dan mudah digunakan.

1.      KONSTRUK-KONSTRUK DI TAM
TAM yang pertama belum dimodifikasi dan hanya menggunakan lima konstruk utama, yaitu:
a.       Kegunaan persepsian (perceived usefulness).
b.      Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use).
c.       Sikap terhadap perilaku (attitude towards behavior atau sikap menggunakan teknologi (attitude towards using technology).
d.      Niat perilaku (behavioral intention) atau niat perilaku menggunakan teknologi (behavioral intention to use)
e.       Perilaku (behavior) atau penggunaan teknologi sesungguhnya (actual technology use)

1.1. KEGUNAAN PERSEPSIAN
Kegunaan persepsian (perceived usefulness) didefiniskan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjanya. Sehingga dapat diartikan kegunaan persepsian (perceived usefulness) merupakan suatu kepercayaan (belief) tentang proses pengambilan keputusan. Dengan demikian jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi berguna maka dia akan menggunakannya.

1.2.KEMUDAHAN PENGGUNAAN PERSEPSIAN
Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan terbebas dari usaha. Dapat diketahui bahwa konstruk kemudahan penggunaan persipsian (perceived ease of use) ini juga merupakan suatu kepercayaan (belief) tentang proses pengambilan keputusan. Jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi mudah digunakan maka dia akan menggunakannya.

1.3.SIKAP TERHADAP PERILAKU
Sikap terhadap perilaku (attitude towards behavior) didefinisikan oleh David et al. (1989) sebagai perasan-perasaan positif dan negative dari seseorang jika harus melakukan perilaku yang akan ditentukan. Akan tetapi beberapa penelitian yang menggunakan TAM tidak memasukan konstruk sikap di dalam modelnya.

1.4.NILAI PERILAKU
Nilai perilaku (behavior intention) adalah suatu keinginan (niat) seseorang untuk melakukan suatu perilaku yang tertentu. Seseorang akan melakukan suatu perilaku (behavior) jika mempunyai keinginan atau niat (behavior intention) untuk melakukannya.

1.5.PERILAKU
Perilaku adalah tindakan yang dlakukan oleh seseorang. Dalam knteks penggunaan system teknologi nformasi, perilaku adalah penggunaan sesungguhnya dari teknologi.

2.      PERBEDAAN TAM DAN TPB
Tiga perbedaan utama antara TAM dan TPB, sebagai berikut:
a.       Tngkat generalisasinya berbeda.
b.      Variable-variabel sosialnya.
c.       Perlakuan terhadap control perilaku.

3.      PERKEMBANGAN TAM
Perkembangan TAM sampai dengan tahun 2003 oleh Lee et al. diklasifikasikan kedalam empat kemajuan, yaitu.
3.1.PENGENALAN MODEL
Karena TAM masih merupakan model yang baru, penelitian-penelitian di era pengenalan model ini banyak mencoba membandingkan TAM dengan TRA dan dengan TPB. David et al. (1989) menemukan bahwa TAM lebih baik menjelaskan keinginan untuk menerima teknologi dibandingkan dengan TRA. Dan berbagai penelitian lainnya juga mengatakan bahwa TRA memang lebih mudah dan memberikan hasil yang lebih baik.
3.2.VALIDASI  MODEL
            Beberapa penelitian menguji validitas dari instrumen-instrumen yang digunakan untuk mengukur penerimaan teknologi oleh pemakai. Selama periode tahun 1990 sampai dengan tahun 1995 banyak penelitian yang mencoba menguji konsistensi, validitas dan reliabilitas pengukuran instrumen-instrumen TAM. Semua peneliti sependapat bahwa tidak ada pengukuran yang secara absolut benar untuk membentuk suatu konstruk. Demikian juga tidak ada pengukuran yang absolut benar untuk konstruk PU dan PEOU yang beda waktu, kondisi dan teknologi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum, hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran instrumen-instrumen TAM cukup kuat, konsisten, valid dan reliable.

3.3.EKSISTENSI MODEL
            Penelitian-penelitian yang mencoba mengembangkan model TAM melakukan dengan menambahkan variable-variabel eksternal. Variabel-variabel eksternal yang digunakan dapat dikategorikan misalnya sebagai variable-variabel individual, organisasi, kultur, dan karakteristik-karakteristik tugas. Penelitian yang menambahkan variable-variabel individual misalnya adalah yang dilakukan oleh Agarwal dan Prasad (1999), Gefen dan Straub (1997) dan Karahanna et al. (1999).

3.4.ELABORASI MODEL
            Penelitian-penelitian TAM di tahun 2000an mencoba untuk mengelaborasi model TAM menjadi model yang lebih lengakap. Model baru TAM yang lebih lengkap dibangun dari elaborasi hasil-hasil penelitian sebelumnya yang sudah menemukan banyak variable-variabel eksternal yang mempengaruhi konstruk PU dan PEOU, niat penggunaan dan penggunaan sistem teknologi informasi.

4.      VARIABEL-VARIABEL EKTERNAL TAM
            Lee et all. (2003) melakukan analisis-meta (meta analysis) untuk mengkombinasikan hasil-hasil penelitian TAM sebelumnya. Analisis-meta ini menggabungkan hasil dari 101 penelitian yang dipublikasikan di jurnal-jurnal sistem informasi terkemuka mulai tahun 1996 sampai juni 2003. Hasil dari analisis-meta ini berupa model TAM yang lengkap dengan variable-variabel eksternal.

5.      TEKNOLOGI, SUBYEK, DAN SITUASI YANG BERBEDA
            Penelitian-penelitian TAM sudah banyak diterapkan di beberapa aplikasi dan teknologi system informasi yang berbeda. Aplikasi dan teknologi yang digunakan di penelitian-penelitian TAM oleh Lee et al. (2003) dapat digolongkan kedalam 4 tipe, yaitu sistem-sistem komunikasi, sistem-sistem maksud-umum, sistem-sistem kantor dan sistem-sistem bisnis khusus.
            Pemakai-pemakai system sebagai subyek di penelitian-penelitian TAM juga beraneka ragam. Banyak penelitian-penelitian TAM yang menggunakan pekerja-pekerja dan manajer-manajer diperusahaan, seperti pemakai-pemakai akhir manajer di beberapa tingkatan dan pekerja-pekerja berpengetahuan. Penelitian-penelitian TAM juga banyak diterapkan pada situasi kultur yang berbeda. Karenan TAM berbasis pada permasalahan perilaku manusia, maka diperkirakan penerapan TAM dengan aplikasi,  teknologi dan pemakai yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda karena adanya perbedaan kultur, terutama kultur Negara yang berbeda.

6.      KELEBIHAN-KELEBIHAN TAM                                    
            Kelebihan-kelebihan TAM adalah sebagai berikut:
  1. TAM merupakan model perilaku yang bermnfaat untuk menjawab pertanyaan mengapa banyak sistem teknologi informasi gagal diterapkan karena pemakaian tidak mempunyai niat untuk mengguanakan.
  2. TAM dibangun dengan dasar teori yang kuat.
  3. TAM telah diuji dengan banyak penelitian dan hasilnya sebagaian besar mendukung dan menyimpulkan bahwa TAM mrupakan model yag baik.
  4. Kelebihan TAM yang paling penting adalah model ini merupakan parsimony yaitu model yang sederhana tetapi valid.

7.      KELEMAHAN-KELEMAHAN TAM
TAM juga mempunyai beberapa kekurangan, yaitu:
a.       TAM hanya memberikan informasi atau hasil yang sangat umum saja tentang niat dan perilaku pemakai sistem dalam menerima sistem teknologi informasi.
b.      Perilaku pemakai sistem teknologi informasi di TAM tidak dikontrol dengan control perilaku yang membatasi niat perilaku seseorang.
c.       Perilaku yang diukur di TAM seharusnya adalah pemakaian atau penggunaan teknologi sesungguhnya.
d.      Penelitian-penelitian TAM umumnya hanya menggunakan sebuah sistem informasi saja seharunya lebih dari satu.
e.       Beberapa penelitian TAM menggunakan subyek mahasiswa padahal seharunya merefleksikan dengan lingkungan kerja yang sebenarnya.
f.       Penelitian-penelitian TAM hanya menggunakan subyek tunggal sejenis saja.
g.      Penelitian-penelitian ini umumnya hanya melibatkan waktu satu periode tetapi banyak sampel individu.
h.      Penelitian-penelitian  TAM hanya menggunakan sebuah tugas saja.
i.        Penelitian TAM kurang dapat memperjelas hubungan variabel-variabel dalam model.
j.        Titrukdak mempertimbangkan perbedaan kultur.

8.      PENGUKURAN KONSTRUK-KONSTRUK
Skala-skala pengukuran banyak item untuk konstruk kegunaan persepsian dan kemudahan penggunaan persepsian dikembangkan di penelitian ini, diuji dan divalidasi menggunakan dua studi empiris.

8.1.TEORI YANG MENDASARI
Beberapa teori digunakan untuk membangun pengukuran untuk konstruk kegunaan persepsian dan kemudahan penggunaan persepsian yaitu teori diri sendiri, paradigm biaya-manfaat, adopsi dari inovasi-inovasi, evaluasi dari laporan-laporan informasi dan model disposisi kanal.

8.2.MEMBANGUN PENGUKURAN KONSTRUK-KONSTRUK
Penelitian Davis (1989) ini merupakan contoh penelitian yang baik yang menunjukna bagaiman suatu konstruk-konstruk dibangun. Suatu konstruk yang baikk harus valid dan reliable. Untuk mencapai validitas yang tinggi konstruk-konstruk kegunaan persepsian de penelitian Davis ini dilakukan dengan cara sebagi berikut:
·         Pengukuran awal
·         Sebelum tes
·         Validitas konstruk
·         Relibilitas

8.3.HUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN
Hasil analisis regresi ini menunjukan baik konstruk kegunaan persepsian dan kemudahan penggunaan persepsian keduanya signifikan menentukan penggunaan program pengolah kata 1 jam sesudahnya. Hanya konstruk kegunaan persepsian saja yang signifikan menentukan penggunaan program pengolah kata 4 minggu sesudahnya.


Pembelian fiktif sebagai kamuflase laba yang lebih saji

Pembelian fiktif sebagai kamuflase laba yang lebih saji

Comptronix Corporation mengumumkan bahwa beberapa pejabat senior telah melakukan lebih saji, sehingga akan dilakukanpenyesuaian material pada hasil audit laporan keuangan ditahun sebelumnya. Hal ini dapat terjadi ngengan cara melakukan pengadaan utang dagang fiktifterhadap pembelian peralatan dalam jumlah besar untuk melebihsajikan asset tetap dan menyembunyikan penjualan fiktif.
Pejabat senior ini mengelabuhi pengendalian internal dengan menelikung departemen pembelian dan penerimaaan barang sehingga tak seorang pun tahu akan kecurangan yang terjadi. Departemen internal mengontrol transaksi dengan mensyaratkan adanya pemesanan pembelian, laporan penerimaan dan faktur dari vendorsebelum pembayarannya diotorisasioleh direktur pelaksaan atau bendahara, dimana keduanya terlibat kejahatan.
Perusahaan juga melakukan penjualan dan piutang fiktif dengan menerbitkan cek untuk pembayaran transaksi pembelian fiktif. Skema kejahatan tersebut menggelembungkan kinerja perusahaan dengan melaporkan laba pada saat perusahaan sebetulnya mengalami kerugian.
Dari contoh kasus diatas adalah salah satu siklus transaksi besar yang ketiga yaitu siklus akuisis dan pembayaran. Seharusnya siklus akuisisi dan pembayaranmelibatkan keputusan dan proses yang diperlukan untuk memperoleh barangserta jasa guna mengoperasikan suatu bisnis. Untuk mengindari kejahatan seperti contoh kasus diatas maka permintaan akan barang dan jasa oleh personil klien melalui berbagai tahapan.bentuk pasti dari permintaan itu dan persetujuan yang diperlukan tergantung sifat barang dan saja serta kebijakan perusahaan.untuk menghindari kejahatan seperti diatas maka dokumen yang umum digunakan untuk mempermudah pengauditan aliran atau proses penjualan, yaitu:
  1. Permintaan pembelian (purchase requisition)
  2. Pesanan pembelian (purchase order)
  3. Faktur Vendor (vendor’s invoice)
  4. Memo debet (debit memo)
  5. Voucher
  6. File transaksi akuisisi
  7. Jurnal akuisisi (listing)
  8. File induk utang usaha (accounts payable master file)
  9. Neraca saldo utang usaha (accounts payable trial balance)
  10. Laporan vendor (vendor’s statement)
  11. Cek
  12. File transaksi pengeluaran kas (cash disbursement transaction file)
  13. Jurnal atau listing pengeluaran kas
Dokumen itu tidak berhenti pada cek saja. Sehingga akan banyak orang yang terlibat dan akan mempersulit ruang gerak kejahatan diatas. Atau bisa juga menggunakan E-Commerce yaitu perusahaan menggunakan internetdan opsi e-commerce lainnya untuk merampingkan proses akuisissi barang dan jasa serta proses lainnya seputar manajemen mata rantai suplai. Dengan ini transaksi akan transparan dan mudah terpantau. Adapun proses diatas dan penggunaan dokumen akan mempermudah audit untuk menelusuri aliran transaksi dan melakukan pengendalian subtansif.
Akuisisi barang dan jasa meliputi akuisis pemeliharaan, penelitian dan pengembangan. Auditor perlu memahami fungsi-fungsibisnis dan dokumen dan pencatatan dalam perusahaan sebelum mereka memahami resiko pengendalian dan mendesain pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi.
1.       Akun dan klasifikasi transaksi transaksi alam siklus akuisis dan pembayaran
Tujuan keseluruhan dalam audit siklus akuisisi dan pembayaran adalah untuk mengevaluais apakah akun dipengaruhi oleh akuisis barang dan jasa dan pengeluaran kas untuk akuisisi tersebut. Terdapat 3 klasifikasi transaksi dalam siklus ini, yaitu:
a.       Akuisis barang dan jasa
b.      Pengeluaran kas
c.       Retur pembeliaan dan cadangan serta potongan pembelian
2.       Fungsi-fungsi bisnis dalam siklus dan dokumen pencatatan terkait
Siklus akuisis dan pembayaran meliputi keputusan dn proses yang diperlukan untuk menyediakan barang dan jasa dalam pelaksanaan usaha. Siklus ini biasanya diawali dengan tindakan pembelian oleh pegawai yang membutuhkan barang atau jasa dan berakhir dengan pembayaran utang dagang.


Tabel 17-1
Klasifikasi transaksi, akun, fungsi bisnis dan dokumen terkait dan pencataat dan siklus pembelian dan pembayaran
Klasifikasi transaksi
Akun
Fungsi-fingsi bisnis
Dokumen dan pencatatan
akuisisi
Persediaan
Pemperoses pesanan pembelian
Permintaan pembeliaan

Aset Tetap
Pesanan pembelian

Beban dibayar di muka
Permintaan barang dan jasa
Laporan penerimaan

Peningkatan sewa guna
Pengakuan utang
Faktur dari vendor

Utang dagang

Memo debet

Beban manufaktur

Voucher

Beban penjualan

Brkas transaksi akisisi

Beban administrasi

Jurnal atau daftar akuisisi



Berkas utama utang dagang



Neraca saldo utang dagang



Laporan dari vendor
Pengeluaran kas
Kas di bank (dari pengeluaran kas)
Pemroses dan pencatatan pengeluaran kas
Cek

Utang dagang
Berkas transaksi pengeluaran kas

Diskon pembelian
Jurnal atau daftar pengeluaran kas



Jumat, 03 Januari 2014

KASUS 6-4 STRIDER CHEMICAL COMPANY



S1 Akuntansi 2010 B
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2013

KASUS 6-4
STRIDER CHEMICAL COMPANY

Pada tanggal 9 Desember 1986, presiden Strider Chemical Company-yang melakukan penjualan sekitar $175juta-mengumumkan bahwa mulai 1 Januari 1987, perusahaan tersebut akan dibagi menjadi beberapa divisi. Sampai tanggal tersebut, perusahaan tersebut dikelola dengan dasar fungsional, yang departemen manufaktur, penjualan, keuangan, dan risetnya masing-masing dipimpin oleh seorang penanggung jawab. 6 divisi yang dipersiapkan-4 berdasarkan kelompok produk dan 2 berdasarkan wilayah geografis. Setiap divisi masing-masing akan memiliki staf produksi, penjualan, dan akuntansi, dan seorang manajer umum yang bertanggung jawab atas operasionalnya. Kinerja operasi divisi akan dinilai berdasarkan laba yang dihasilkan dalam hubungannya dengan investasi yang ditanamkan. Telah diadakan antisipasi bahwa prosedur penghitungan basis investasi dan tingkat pengembalian (return) harus dikerjakan secara hati-hati jika rasio yang dihasilkan dapat diterima oleh para manajer divisi yang baru sebagai pengukuran yang rasional atas kinerja mereka.
Salah 1 hambatan terbesar dalam pembuatan laporan rugi dan laba bulanan yang diinginkan untuk setiap divisi adalah penentuan harga dari produk-produk yang ditransfer dari divisi 1 ke divisi yang lain. Pada saat divisi-divisi tersebut terbentuk, presiden perusahaan mengeluarkan pernyataan atas prosedur harga yang digunakan. Pernyataan presiden tersebut adalah sebagai berikut.
Pernyataan Presiden atas Kebijakan Perusahaan
Harga transfer maksimum dan yang biasa digunakan di antara unit-unit laba adalah harga yang memampukan unit produksi untuk memperoleh ROI yang dibutuhkan, konsisten dengan apa yang dapat diperoleh dengan melakukan bisnis dengan rata-rata konsumen untuk kelompok produk terkait.
Harga yang ditentukan akan ditinjau setiap 6 bulan atau pada saat adanya perubahan mendasar yang terjadi atas harga pasar.
Diskusi
Kebijakan penentuan harga di antara unit-unit operasi adalah penting karena, bila harga tersebut salah, maka tingkat pengembalian pada 1 segmen usaha akan dinyatakan rendah (understated) dan segmen yang lain lebih tinggi (overstated). Hal ini tidak saja menyebabkan pengukuran yang salah atas kinerja seseorang tetapi juga dapat membuat keputusan yang buruk pada bisnis secara keseluruhan, yang akan mempengaruhi semua pihak.
Beberapa elemen pengeluaran yang tidak dapat ditemukan dalam hubungan perusahaan adalah:
1.      Pengurangan untuk diskon tunai, pengiriman, royalty, pajak penjualan, penyisihan untuk konsumen, dan sebagainya.
2.      Biaya penjualan regular dan dalam banyak kasus jasa penagihan.
3.      Beberapa pelayanan konsumen yang menggunakan laboratorium riset, seperti jasa penjualan di mana hal ini terkait.
Divisi produksi yang bertindak sebagai pemasok akan menentukan harga dengan mendiskon struktur harga regular untuk elemen-elemen terkait diatas.
Apabila divisi pembeli tidak menyetujui perhitungan harga di atas, maka ia akan menjelaskan dasar penolakannya kepada presiden, yang akan memutuskan apa saja yang harus dilakukan.
Kita sangat berharap bahwa kebijakan ini akan berjalan dengan baik, dengan memberikan dasar yang adil bagi setiap bisnis yang dilakukan oleh tiap divisi. Jika pada kenyataannya ditemukan bahwa kebijakan ini tidak berjalan dengan baik, atau sangat sulit dalam penghitungannya, atau bekerja dengan sangat susah payah, maka kebijakan tersebut harus diubah.

Divisi Williams
Divisi baru yang paling besar, yaitu Divisi Williams, sangat dipengaruhi oleh permasalahan harga transfer karena 23% penjualannya dilakukan kepada divisi lain.
Hanya dalam waktu 3 minggu sebelum pemisahan ke dalam divisi-divisi, sangatlah penting untuk secepatnya membuat daftar harga transfer di antara divisi-divisi. Tugas-tugas Divisi Williams sangat rumit dengan banyaknya produk yang dihasilkan. Ada beberapa ratus unsur dan materi berbeda yang harganya harus ditetapkan. Karena itu, demi alas an ketepatan, Divisi Williams memilih untuk menetapkan harga berdasarkan biaya produksi langsung. Data-data dipergunakan dalam metode ini lebih mudah didapat daripada yang digunakan dalam metode penetapan harga yang berdasarkan harga pasar.
Seminggu setelah dibagikannya pernyataan kebijakan presiden, Divisi Williams mengeluarkan suatu interpretasi kebijakan yang menyatakan usulan metode dalam menentukan harga untuk penjualan produk-produk dari Divisi Williams kepada divisi-divisi lain. Paragraf kunci dari pernyataan ini adalah sebagai berikut:
Divisi Williams akan mengenakan tarif harga yang sama kepada divisi lain seperti tariff yang dikenakan ke konsumen yang ada, dikurangi dengan penyisihan (allowance) untuk pengeluaran-pengeluaran yang terjadi dari rata-rata konsumen yang bukan konsumen antardivisi. Pengeluaran yang tidak dapat dibandingkan ini akan dikurangi  melalui pos pengurangan penjualan dan sebagai bagian dari akun Beban Penjualan. Harganya akan dihitung berdasarkan markup akan factor perkalian pada akun biaya produksi langsung. Suatu markup akan dihitung ulang setiap 6 bualn, berdasarkan pengalaman 12 bulan sebelumnya dengan konsumen regular.
Markup untuk 6 bulan pertama tahun 1987 adalah 1,41 kali biaya manufaktur langsung seperti yang ditunjukkan dalam tampilan 1 yang menggunakan data actual untuk periode 12 bulan yang berakhir pada 31 Oktober 1986.
Pada akhir Maret 1987, presiden menerima beberapa pucuk surat dari para manajer divisi, yang menanyakan tentang harag transfer. 3 di antaranya disimpulkan di bawah ini:
1.      Divisi Williams bertanya tentang harga yang ditentukan oleh Divisi Johnson atas unsur A, suatu bahan baku bagi Divisi Williams. Divisi Johnson sejak awal telah menghitung markup sebesar 1,33, yang dihasilkan dari proses penghitungan yang sama dengan yang dilakukan oleh Divisi Williams yang menghitung markup-nya dan menghasilkan angka 1,41. Meskipun demikian, pada angka 1,33 Divisi Johnson akan tetap mengalami rugi bersih (net loss) karena divisi tersebut belum beroperasi dalam 12 bulan sebelumnya. Karena itu, ia meningkatkan markup-nya menjadi 1,41, sama seperti yang digunakan oleh Divisi Williams. Pada tingkat markup ini, ia akan menunjukkan perolehan laba yang sama dengan yang dihasilkan oleh Divisi Williams. Divisi Williams beragumen bahwa hal ini telah melanggar kebijakan perusahaan.
2.      Divisi internasional bertanya tentang harga transfer untuk beberapa produk yang dibelinya dari Divisi Williams untuk penjualan luar negeri. Divisi ini mengatakan bahwa pada tingkat harga tersebut ia tidak dapat bersaing dengan harga di pasar Eropa dan tidak dapat memperoleh laba.
3.      Divisi Western membeli unsur kimia B dari Divisi Williams untuk dijual kembali kepada konsumen divisi itu sendiri. Divisi ini menyerahkan data-data untuk menunjukkan bahwa harga menurut perhitungan Divisi Western akan lebih menguntungkan jika kimia B diproduksi pada salah 1 pabriknya. Jika tidak demikian, divisi ini mengusulkan untuk memotong harga transfer sebesar 15%, dimana harga ini masih menyisakan margin atas biaya manufaktur langsung untuk Divisi Williams.


Dalam Dolar
Dalam Persen
Penjualan kotor kepada kosumen luar
$5.126.328


Dikurangi: Jumlah yang tidak dapat dikenakan dalam penjualan internal:



Pengiriman, royalty, pajak penjualan
$58.625


Biaya penjualan
260.123


Total pengurangan

318.748

Penyesuaian penjualan

4.807.580
100%
Biaya manufaktur langsung

3.404.923
71
Margin

1.402.657
29%
Penghitungan 100 : 71 = 1,41 kali




Sampai akhir bulan Maret, presiden belum menanggapi surat-surat tersebut selain membalas bahwa hubungan yang ada diantara divisi-divisi harus terus berlanjut sampai pemberitahuan selanjutnya dan setelah pertanyaan-pertanyaan diputuskan, penyesuaian-penyesuaian harga transfer akan dilakukan mulai tanggal 1 Januari.
Dalam pandangan berbagai pertanyaan yang muncul tentang markup, presiden mempertimbangkan kemungkinan untuk mentransfer seluruh produk pada harga sebesar biayanya, tanpa ada markup.
Pertanyaan
1.      Bagaimana seharusnya presiden menanggapi ketiga surat tersebut?
2.      Jika ada, perubahan apa sajakah yang harus dilakukan untuk pelaksanaan harga transfer dalam Strider Chemical Company?

Istilah Penting
1.      Harga transfer: Harga yang dibebankan untuk suatu komponen oleh divisi penjual pada divisi pembeli di perusahaan yang sama.
2.      Mark up harga: Penetapan harga, dimana harga tertentu ditetapkan dengan jelas menambahkan suatu prosentase tetap di atas biaya produksi
3.      ROI (Return On Investment): Ukuran kinerja yang paling lazim bagi suatu pusat investasi.
Analisis Masalah
Seperti yang kita ketahui, permasalahan mulai muncul pada saat salah satu divisi SCC yakni divisi Williams menetapkan harga transfer produknya karena divisi tersebut merasa sangat dipengaruhi oleh penetapan harga transfer tersebut. Penetapan harga transfer oleh divisi wiliam menyebabkan divisi lain menerima efek dimana mereka menjual harga barang mereka kepada pelanggan menjadi lebih mahal. Dalam masalah ini presiden seharusnya memikirkan seluruh kepentingan divisi-divisi yang yang ada dan membuat sebuah keputusan harga transfer yang terbaik.
Jawaban
1.      Menurut kami, cara presiden Strider Chemical Company dalam menanggapi ketiga surat dari divisi Wiliams, divisi Internasional, dan divisi Western adalah dengan cara menetapkan kebijakan terkait dengan harga transfer yang seharusnya digunakan oleh divisi-divisi yang ada pada Strider Chemical Company. Karena,salah satu permasalahan yang ada dalam divisi tersebut adalah mengenai penetapan harga transfer. Presiden Strider Chemical Company sebaiknya menetapkan harga transfer yang dapat menguntungkan bagi setiap divisi atau seluruh perusahaan dan membuat keputusan harga transfer yang baik. Metode harga transfer yang bisa digunakan oleh presiden Strider Chemical Company adalah harga transfer berdasarkan pasar atau harga transfer yang dinegosiasikan. Harga transfer pasar adalah semua divisi menetapkan harga transfer untuk penjualan ke divisi lain berdasarkan harga jual perusahaan. Harga transfer negosiasikan adalah harga transfer yang ditentukan oleh kesepakatan antara dua divisi atau lebih.
2.      Menurut kelompok kami jika ada perubahan yang harus dilakukan dalam  melaksanakan  kebijakan dan juga harga transfer dalam Strider Chemical Company, maka  president Strider Chemical Company sebaiknya menggunakan harga transfer yang dinegosiasikan atau yang telah menjadi hasil kesepakatan antar divisi. Kami menyarankan untuk menggunakan harga transfer yang dinegosiasikan karena, dengan adanya kesepakatan harga transfer, masing-masing divisi bisa mencapai laba yang telah ditergetkan.



DAFTAR PUSTAKA

Anthony, Robert N. dan Vijay Govindarajan. 2009. Management Control System Sistem Pengendalian Manajemen. Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.

Hansen, Don R. dan Maryanne M. Mowen. 2009. Managerial Accounting Akuntansi Manajerial. Buku 1 Edisi 8. Jakarta: Salemba Empat.